Hati-Hati Lonjakan Onderdil Palsu Untuk Otomotif

Dealer Mobil Suzuki Bandung | Ipsos Business Consulting, pelopor dalam konsultasi bisnis yang berbasiskan fakta, telah mengeluarkan riset baru yang menyorot ancaman para pemalsu di pasar komponen automotif yang berkembang pesat.

Riset Ipsos Business Consulting, bertajukkan ‘Trend Industri Manufaktur Onderdil Otomotif China’, menyorot bagaimana produsen onderdil otomotif harus segera meningkatkan proses proteksi kekayaan intelektual (KI) mereka guna mengurangi ancaman dari pemalsu yang akan terus meningkat saat industri komponen mobil diperkirakan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun mendatang.

Di sisi lain, perusahaan asing yang beroperasi di pasar ini kemungkinan dapat menggunakan proses anti-bajakan yang lebih baik sebagai sarana untuk meningkatkan pangsa pasar mereka yang besar, kata Markus Scherer, Kepala Konsultasi Hong Kong di Ipsos Business Consulting dan salah satu penulis pada riset ini.

Scherer mengatakan “Riset Ipsos Business Consulting memperlihatkan mengapa semua produsen onderdil otomotif di China harus bertindak cepat untuk mengembangkan dan mengimplementasikan praktek terbaik untuk proteksi KI guna menangkal ancaman dari pemalsu.”

China menawarkan kesempatan perkembangan yang besar bagi produsen onderdil otomotif, meskipun begitu, kesempatan ini bukan tanpa risiko di negara yang merupakan rumah bagi pasar onderdil otomotif palsu terbesar di dunia.

Penelitian Ipsos Business Consulting memperlihatkan bahwa perusahaan investasi asing berhasil di pasar ini. Meskipun perusahaan investasi asing hanya seperlima dari total perusahaan onderdil otomotif yang beroperasi di pasar China, perusahaan asing menghasilkan nilai sebesar 33,9 persen dari total produksi pasar. Produsen asing juga dua kali lebih efisien dibandingkan perusahaan China dalam hal rata-rata produksi industrinya.

Sementara itu, Domy Halim, Country Manager Ipsos Business Consulting di Indonesia mencatat bahwa ada potensi kesempatan bagi produsen onderdil otomotif Indonesia.

“Produsen onderdil otomotif di Indonesia harus memanfaatkan pengetahuan tentang pasar lokal mendalam sebagai pembeda utama dibandingkan dengan onderdil otomotif yang diimpor dari China. Kemampuan untuk memproduksi onderdil yang dapat memenuhi standar kualitas pasar ASEAN dan dunia serta tetap mengadopsi kebutuhan pasar lokal, harus terus dipromosikan oleh industri ini”, kata Halim.

Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk onderdil otomotif tetap menjadi hambatan dikarenakan standar kualitas SNI yang masih dianggap jauh berada dibawah standar ASEAN. Akibatnya, kita telah melihat bahwa selain China, terdapat banyak onderdil impor di pasaran yang berasal dari Thailand walaupun investasi asing di sektor otomotif telah tumbuh sebesar 120 persen per tahun pada periode 2010 sampai 2013.

Sumber

Posted in News.