Test Drive Suzuki Ignis GX AT

Tak dapat disangkal bahwa Ignis terasa begitu mempesona saat pertama kami mendengar kabar ia hadir di Indonesia dengan berbagai fitur lengkap. Beberapa di antaranya sebut saja keyless entry, tombol start/stop engine, manual leveling headlamp, lampu utama LED projektor, hingga rem ABS.

Ternyata kabar tersebut benar terwujud dan membuat kami makin penasaran. Kemudian adalah tampilannya yang eksentrik. Suzuki menurunkan Ignis untuk mengincar pasar anak muda di Indonesia, ia mengusung tema modern berpadu dengan filosofi desain retro yang berasal dari mobil kompak Suzuki di era 1970-an.

Proporsi Ignis terlihat menarik dari sisi depan, sayang pihak Suzuki harus mengakui bahwa bagian belakangnya tidak mudah diterima oleh calon konsumen di Tanah Air. Namun, ketika berbicara soal harga jualnya ia juga mengundang decak kagum.

Beberapa orang menganggapnya sebagai terobosan baru mengingat walaupun tanpa skema LCGC, varian terendah Ignis yakni tipe GL dilego Rp 139,5 juta. Hal ini membuat ia bersinggungan dengan sebagian LCGC yang tersedia di pasaran saat ini.

Ketiga faktor ini setidaknya berhasil membuat ekspektasi kami terhadap rasa berkendara Ignis kian memuncak. Kemudian tiba saatnya kami mendapat kesempatan untuk percobaan pertama di lahan terbatas.

Unit yang kami coba adalah varian tertinggi, Suzuki Ignis GX AT. Ketiga unit yang tersedia yaitu GL MT, GX MT, dan GX AT dibekali mesin yang sama. Jantung mekanisnya memiliki volume total 1.197 cc dengan lontaran tenaga 83 dk serta torsi 113 Nm. Memang bukan yang terbesar di kelasnya karena masih ada Honda Brio dengan 90 dk.

Varian tertinggi ini dibekali transmisi yang dinamai Automatic Gear Shift (AGS) oleh Suzuki, dimana sejatinya ia adalah transmisi yang biasa dikenal dengan sebutan Automated Manual Transmission (AMT).

Transmisi ini punya mekanisme yang sama dengan transmisi manual, hanya saja proses perpindahan giginya lebih praktis karena pengoperasian kopling diatur oleh aktuator elektronis.

Suzuki mengklaim bahwa ini adalah transmisi generasi kedua dari AGS. Ia lebih halus dan cekatan dari AGS generasi sebelumnya yang digunakan pada Suzuki Karimun Wagon R. Masalah yang pernah kami temukan pada transmisi Wagon R adalah perpindahan gigi yang lamban dan adanya hentakan setiap menginjak gas di kecepatan rendah maupun saat perpindahan gigi.

Sejauh yang dapat kami rasakan, revisi yang diberi Suzuki pada transmisi AGS generasi kedua ini menuju ke tingkat positif. Hentakan terasa lebih halus walau masih ada, juga perpindahan tiap gigi terasa lebih mengalir saat kecepatan rendah.

Kami punya ekspektasi tinggi soal pengedalian yang cekatan dari mobil ini. Sayangnya hal ini belum kami temukan karena kemudinya terasa kurang akurat untuk mobil seukurannya. Walaupun ringan, putaran lingkar kemudinya tergolong banyak untuk bermanuver di lahan sempit.

Faktor pengendalian sebenarnya terasa penting mengingat mobil ini akan banyak digunakan di area perkotaan. Untuk mengimbangi ground clearance setinggi 180 mm, setelan suspensinya dibuat keras Berimbas baik pada minimnya body roll saat diajak bermanuver tentu dengan konsekuensi sedikit mengurangi kenyamanan saat melibas medan buruk.

Sumber

Posted in News and tagged , , , , , .